Senin, 9 Juni 2008 | 03:27 WIB
Oleh: TAMRIN AMAL TOMAGOLA
Praktik pembajakan karya ilmiah sudah lama terjadi di semua jenjang pendidikan tinggi, mulai dari tingkat sarjana, magister, hingga doktoral dan profesoriat. Para peneliti di lembaga penelitian bergengsi non-universitas dan mereka yang bersaing mendapatkan berbagai dana penelitian departemen juga sama terlilit gurita pembajak bertoga ini.
Tampilkan postingan dengan label Presentasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Presentasi. Tampilkan semua postingan
Plagiarisme dan Kepengarangan
Senin, 9 Juni 2008 | 03:26 WIB
Oleh: SENO GUMIRA AJIDARMA
Belum jelas sejak kapan sejarah plagiarisme di Indonesia dimulai. Tetapi, dalam dunia kesusastraan Indonesia, pagi-pagi HB Jassin sudah harus membela Chairil Anwar yang telah menjadi ikon kesusastraan Indonesia, melalui buku kritik sastra berjudul Chairil Anwar: Pelopor Angkatan 45 (1956), dari tuduhan banyak orang yang menyatakan dan ”membuktikan” bahwa penyair itu adalah plagiator.
Oleh: SENO GUMIRA AJIDARMA
Belum jelas sejak kapan sejarah plagiarisme di Indonesia dimulai. Tetapi, dalam dunia kesusastraan Indonesia, pagi-pagi HB Jassin sudah harus membela Chairil Anwar yang telah menjadi ikon kesusastraan Indonesia, melalui buku kritik sastra berjudul Chairil Anwar: Pelopor Angkatan 45 (1956), dari tuduhan banyak orang yang menyatakan dan ”membuktikan” bahwa penyair itu adalah plagiator.
Plagiarisme dan Dilema Etika Kecendekiaan
Oleh DANIEL DHAKIDAE
Beragam reaksi dunia terhadap plagiarisme. Pertanyaannya, apakah dengan keterbukaan ruang tersebut tidak ada masalah etis dan moral dalam arti khusus dalam dunia akademia dan kecendekiaan secara umum? Masalah etika harus diangkat dan dijaga, dan malah penjagaannya harus ditingkatkan bukan demi puritanisme akademis atau intelektual, akan tetapi demi kebutuhan yang sangat praktis, yaitu demi perkembangan masyarakat itu sendiri, kualitas perkembangan sosial. Tanpa itu “cendekiawan kelas kambing” akan mengusai medan dan para ahli sesungguhnya yang bekerja keras malah dipinggirkan.
Beragam reaksi dunia terhadap plagiarisme. Pertanyaannya, apakah dengan keterbukaan ruang tersebut tidak ada masalah etis dan moral dalam arti khusus dalam dunia akademia dan kecendekiaan secara umum? Masalah etika harus diangkat dan dijaga, dan malah penjagaannya harus ditingkatkan bukan demi puritanisme akademis atau intelektual, akan tetapi demi kebutuhan yang sangat praktis, yaitu demi perkembangan masyarakat itu sendiri, kualitas perkembangan sosial. Tanpa itu “cendekiawan kelas kambing” akan mengusai medan dan para ahli sesungguhnya yang bekerja keras malah dipinggirkan.
Presentasi R. Diyah Larasati
Diskusi Bulan Purnama
Garuda, 13 Desember 2006
Selamat Malam.
Nama saya Diyah Larasati,
[thanks to Gung Ayu yang telah mengundang saya dan mempertemukan saya dengan komunitas ini.]
Pada kesempatan ini saya ingin membagi apa yang telah saya dapatkan dari proses pembelajaran saya sebagai seorang penari di Indonesia yang menyandang status pegawai negeri, dengan segala peraturan dan tugas terhadap negara/state. Yang tentu saja, saya juga mengenyam berbagai kemudahan karena menjadi bagian dari sistem kekuasaan yang telah menandai kehidupan bernegara di negeri ini.
Garuda, 13 Desember 2006
Selamat Malam.
Nama saya Diyah Larasati,
[thanks to Gung Ayu yang telah mengundang saya dan mempertemukan saya dengan komunitas ini.]
Pada kesempatan ini saya ingin membagi apa yang telah saya dapatkan dari proses pembelajaran saya sebagai seorang penari di Indonesia yang menyandang status pegawai negeri, dengan segala peraturan dan tugas terhadap negara/state. Yang tentu saja, saya juga mengenyam berbagai kemudahan karena menjadi bagian dari sistem kekuasaan yang telah menandai kehidupan bernegara di negeri ini.
Langganan:
Postingan (Atom)